Biar ngga Gagal Paham : PERUSAHAAN KAFIR BOLEH, KENAPA PEMIMPIN KAFIR TIDAK BOLEH ?

THIS ADS by GOOGLE
Ternyata banyak yang belum paham, yakni Apa bedanya pemimpin suatu daerah dengan pemimpin suatu perusahaan ? Kenapa kita tidak boleh memilih pemimpin kafir tapi dibolehkan untuk bekerja disuatu perusahaan yang pemimpinnya kafir ?


Jawaban :

Banyak yang salah paham, ketika dalam Islam ada sebuah syariat yang berisi pengharaman, itu kemudian dihubung-hubungkan dengan hal lain yang tidak ada hubungannya, bahkan dikait-kaitkan dengan ajaran kebencian. Babi diharamkan, berarti babi adalah hewan yang dibenci umat Islam. Anjing itu najis, maknanya anjing itu hewan yang dibenci muslimin.


Cara berfikir seperti ini tentu fatal kelirunya. Karena ketika seorang Muslim menjauhi sesuatu yang diharamkan oleh Allah, itu hanya semata-mata menjalankan perintah Allah. Tidak ada kaitannya dengan kebencian. Anjing dan babi memang diharamkan, tapi bukan untuk dibenci. Bahkan berbuat aniyaya kepada hewan termasuk kepada keduanya, adalah dosa hukumnya. Sebagaimana berbuat baik kepada anjing dan babi, akan berbuah berpahala. Dalam Islam bahkan ada kisah terkenal yang berkaitan dengan anjing, yakni anjing Ashabul Kahfi yang masuk syurga, dan kisah pelacur yang diampuni dosa-dosanya karena menolong anjing yang kehausan.

Demikian juga ketika seorang muslim diharamkan mengangkat pemimpin kafir, tidak ada hubungannya sedikitpun dengan ajaran kebencian. Karena pada dasarnya, justru Islam mengajarkan kasih sayang, perdamaian dan cinta kasih kepada siapapun, termasuk kepada orang kafir.
Secara default ajaran syariat Islam, orang kafir tetap wajib diperlakukan secara adil, tidak boleh didzalimin, dibolehkan bermuamalah dengan mereka, dilindungi harta, darah dan kehormatannya. Bahkan dalam pandangan Islam, mengganggu orang kafir dzimmi (Kafir yang hidup berdampingan secara damai dengan umat Islam) tergolong dosa besar. Sampai Rasululullah menengaskan : “Siapa yang mengganggu ahlu dzimmi, maka dia sama dengan mengganggu aku.”

Bukan hanya dalam bentuk aturan positif syariah, bahkan dalam tuntunan akhlaq, seorang muslim diperintahkan untuk menunjukkan akhlaq yang mulia kepada orang-orang kafir karena itu boleh jadi menjadi jalan hidayah bagi mereka.

Hukum bermualah dengan orang kafir

Ulama semua sepakat, bahwa bermuamalah dengan orang kafir mulai dari hidup bertetangga, hubungan jual beli, hutang piutang, hubungan kerja dll adalah dibolehkan.

Sehingga tidak mengapa bekerja kepada pemilik perusahaan yang dia adalah orang kafir, selama dia tidak menetapkan hal-hal yang diharamkan dalam Islam, seperti melarang shalat, menjual barang haram dll.
Tapi jika ternyata bos atau perusahaan tempat kita bekerja melarang kita shalat, menyuruh kita menjual barang haram, jangankan bos kita kafir, dia muslim sakipun hukumnya haram bekerja di tempat tersebut !
Dalam bab muamalah : Boleh bekerja dengan muslim ataupun kafir asalkan kerjanya halal, dan Haram hukumnya bekerja kepada muslim maupun kafir bila kerjanya menjerumuskan kepada kemaksiatan.

Kenapa bekerja pada bos kafir boleh, sedangkan memilih memimpin kafir tidak boleh ?
Jawabannya sederhana saja, karena dalam bab muamalah, berhubungan dengan saudara kita dari agama lain, baik dia bawahan atau atasan itu hukumnya dibolehkan dalam Islam. Selama syarat-syaratnya terpenuhi. Sedangkan memilih pemimpin, Islam menetapkan syaratnya harus muslim. (baca : Hukum memilih pemimpin kafir)

Kan keduanya fungsinya hampir sama ? sebagai atasan.

Kalau mau disama-samakan ya memang ada samanya. Tapi secara prinsip tentu saja beda. Mari bermain analogi, antara pembantu dengan istri, kalau mau disama-samakan ‘profesinya’, tentu ada kesamaan, bahkan sangat mirip mungkin. Sama-sama mencuci,menyetrika, memasak, mengepel dan membersihkan rumah, bahkan ada yang sama merawat anak-anak kita. Tapi hanya orang konyol yang menyamakan antara memilih pembantu, orang yang hanya terikat dengan kita karena urusan uang, dengan memilih istri orang yang akan terikat dengan diri kita dalam hubungan cinta kasih.
Pembantu berada diruangan rumah kita karena urusan uang, sedangkan istri, seranjang dengan kita, bahkan tanpa bayaran kaitannya dengan kasih sayang.

Kita berada di perusahaan Bos kita, kaitannya dengan uang. Sedangkan kita dibawah kepemimpinan baik kepala negara atau daerah, kaitannya dengan ketaatan dan pengabdian. Lalu mau disamakan keduanya ? situ waras ta ?

Wallahu a’lam.

konsultasislam

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
THIS ADS by GOOGLE

9 Responses to "Biar ngga Gagal Paham : PERUSAHAAN KAFIR BOLEH, KENAPA PEMIMPIN KAFIR TIDAK BOLEH ?"

  1. manunggaling kawulo gusti.. coba tonton riwayat sunan kalijogo saat jadi penengah berseterunya syeh siti jenar vs adipati demak.. di youtube ada kok.. atau cari buku sejarahnya di toko buku terdekat..

    ReplyDelete
  2. la brarti kalo kerja dng orang kafir boleh gak taat kalaupun pekerjaannya tidak melanggar syariat islam

    ReplyDelete
  3. Banyak yg bullshit menjelang pilkada. Agama yg suci indah damai malah dikotori utk tujuan politik dan kekuasaan.

    ReplyDelete
  4. Bagaimana nasibnya muslim yg ada di USA, Australi, dan negara2 yg mayoritas non muslim sebagai pemimpin pemerintahan kalau cara pandangnya seperti artikel diatas? Apa mereka harus meninggalkan negaranya hanya untuk doktrin seperti diatas? Ato ketika minoritas mereka nurut ketika sudah besar mereka harus memberontak mengganti pemerintahan? Apa itu sikap yg elegan? Apakah tdk dibedakan pemimpin saat ini dalam negara demokrasi dengan pemimpin dalam sistem khilafah? Keharusan memilih pemimpin muslim hanya pas utk pemimpin khilafah bukan pemimpin negara demokrasi sy rasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jika pilihan diperhadapkan pada calon pemimpin islam dan calon pemimpin kafir, maka umat islam wajib memilih calon pemimpin islam tetapi jika pilihan hanya pada calon pemimpin kafir tanpa ada pilihan calon pemimpin islam, maka umat islam dapat memilih salah satu yang terbaik dari calon pemimpin kafir tsb.., kira2 demikian

      Delete
  5. alhamdulillah yang faham syariat semakin kokoh & tdk goyah, yang tdk faham cpet luruh & diberi hidayah.

    ReplyDelete
  6. Kita bekerja diperusahaan apa tidak di bawah kepemimpinan bos kita..??
    Kita bekerja di perusahaan apa bukan harus taat dan mengabdi di perusahaan kita...
    Kan sama aja toh...
    Pemimpin di perusahaan dan di daerah ato negara kan sama aja pemimpin...
    Hanya kapasitas kepemimpinannya saja yg berbeda..
    Ketua kelas di sd, smp, sma, kuliah serta ketua di dalam organisasi,kabupaten, kelurahan, kecamatan kota madya dll..
    Yg namanya pemimpin ya pemimpin..
    Tu menurut saya.
    Kita harus taat dan mengabdi terhadap tugasnya..
    Kalo tugas tu menurut kita baik, lakukan.
    Kalo menurut kita tidak, kritik dan beri saran..
    Jgn menghakimi, krna kita sesama manusia pasti ada kesalahan.
    Jgn lgsung merasa benar dgn apa yg kita pikirkan.
    Kita manusia tidak selalu bnar di hadapan Allah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Simak baik2 penjelasannya saudaraku biar dapat menangkap maksud dari penjelasan tersebut.

      Delete
  7. Cukup jelas pencerahan tsb diatas bagi hamba2 Allah (muslim) yang mau menggunakan akal sehatnya, kecuali meraka yang malas atau ogah2an. Larangan (haram) memilih pemimpin kafir itu hanya berlaku bagi umat muslim, yang non muslim tidak ada larangan memilih calon pemimpin kafir baik calon pemimpin kafir maupun calon pemimpin muslim..,

    ReplyDelete