MasyaALLAH.. TERHARU Dan KAGUM Pada Ketegaran SURATMI, Istri Alm SIYONO [Harap SHARE Ini]

THIS ADS by GOOGLE
Diceritakan oleh Dwi Estiningsih, Psikolog Pendamping Keluarga Alm. Siyono. Kamis kemarin, Bu Fida (Suratmi Mufidah‬), istri dari Almarhum Siyono, menyampaikan bahwa akhirnya ia telah mengajak kelima anaknya ke makam beliau pada hari Selasa lalu.



Ia percaya anak-anaknya siap menerima apapun kondisi yang harus dijalani, meskipun Ibrahim dan Hilmi (anak ke 4 & 5) masih sering menanyakan tentang ayahnya, dan Fatimah (anak pertama) masih kelihatan murung.
     Hilmi sering bertanya, “Mi, Abah awah? Abah awah?” (Mi, Abah ke sawah? Abah ke sawah?)

Tanya-nya sambil menunjuk ke arah sawah, meminta Ummi-nya mengantarkan dia ke sawah untuk menjemput sang Abah.
     Ibrahim sering bertanya, “Mi, Abah kok ora mantuk-mantuk, Kapan mantuk Mi?” (Mi, Abah kok nggak pulang-pulang? Kapan pulang Mi?)

Rosyidah dan Isa (anak ke 2 & 3) tampak lebih tegar, sementara sejuta tanya pasti bergelayut dibenak Fatimah, anak sulung mereka,
     “Mengapa Abahku dibunuh?” “Mengapa Abahku yg baik dibilang penjahat sama koran dan TV?” “Mengapa? Mengapa?Mengapa?”

 “Saatnya saya bicara sama anak-anak Bu,” kata Bu Fida. Hari Selasa, ia mengajak anak-anaknya ke makam sang Abah. Bu Fida bicara pada anak-anaknya di depan makam,

     “Anak-anakku, Abah sekarang sudah tidur, sudah tenang, dan sudah bahagia. Jadi anak-anak tidak boleh bersedih.”

     “Abah sudah di Surga, jadi tidak kembali lagi kesini. Ibrahim dan Hilmi tidak usah lagi menanyakan Abah ya?”

 Ibrahim bertanya, “Abah ora mantuk Mi?” (Abah nggak pulang Mi?).
Bu Fida menjawab, “Ora Mas, Abah ora mantuk” (Tidak Mas, Abah tidak pulang)

Entah apa kemudian yang dirasakan Ibrahim dan apa yang ada dalam pikiran anak 4 tahun ini, waktu yang akan menjawab.

Demi Allah...

Bu Fida benar-benar Ibu yang cerdas, penuh keyakinan dan iman. Ia bukan psikolog, psikiater atau konselor, namun ia sudah menjalankan proses trauma healing untuk anak-anaknya, ia mengikis post traumatic syndrome disorder ( ‪#‎PTSD‬ ).

#1. Ia membantu anak-anaknya menghilangkan bayangan peristiwa traumatis.
#2. Ia selalu mengajak anaknya berpikir positif.
#3. Ia menghindarkan anaknya dari perasaan tidak berdaya.
#4. Ia tidak emosional dan mengajarkan anaknya mengelola emosi.
#5. Ia tidak mengisolasi diri meski berduka, ia ajarkan pula anaknya demikian.
#6. Ia membangun harapan masa depan yang cerah bagi anak-anaknya.

Siapapun yang melihat ketegaran Bu Fida pasti akan mengatakan, “Wah, bojone Siyono sangat pemberani.” (Wah, istrinya Siyono sangat pemberani) - [*komentar masyarakat umum]

Satu hal yang selalu ia lakukan adalah melakukan Sholat Istikharah sebelum mengambil keputusan dan meyakini apapun kemantapan hatinya.
     “Saya sudah Sholat Istikharah Bu, hati saya menolak untuk tanda tangan, jadi saya tidak tanda tangan meski semua orang termasuk aparat & keluarga mendorong saya untuk tanda tangan.” - [*mereka menyarankan untuk tidak menuntut Densus 88]

     “Saat itu saya benar-benar sendiri, Allah yang selalu ada.” ‪#‎Istikharah‬

Di masalah yg lain...
 “Saya sudah Sholat Istikharah Bu, hati saya mantap menuntut keadilan atas suami saya, saya yakin harus ada autopsi.”

Keputusan penting lain...
 “Saya sudah Sholat Istikharah Bu, hati saya sudah yakin tidak akan membuka rekening bank, meskipun banyak simpatisan yang meminta rekening supaya memudahkan mereka membantu kami sekeluarga.”

Bu Fida mengatakan ia sangat menghargai para pihak yang sudah membantunya, baik itu moral maupun material, tapi.. Ia ingin meluruskan niat perjuangan.. jangan sampai kemudian dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.
     “Supaya barokah Bu,” “Rejeki sudah diatur oleh Allah, tidak perlu risau memikirkannya, kita hanya perlu ikhtiar menjemput Rizki yang halal.”

Tiga hari setelah autopsi, Bu Fida sudah beraktivitas seperti biasa, ia belanja di tukang sayur dan menyabit rumput di ladang.
 “Kambing-kambing dan Sapi-sapi harus diberi makan Bu, si Mbah mengurus sawah, dan saya yang mengurus ternak.” katanya.

Ibu-ibu tetangga yang menemuinya sedang belanja sayur dan menyabit rumput selalu memeluknya menyampaikan rasa simpati..
 “Maaf Mbak Fida, belum sempat berkunjung, dulu kami takut kalau sekarang kami sungkan, banyak tamu dari jauh di rumah Mbak Fida.”

Sepenggal kisah Bu Fida, #Suratmi, perempuan desa, Hafidzah, satu-satunya keluarga korban densus 88 yang berani mencari keadilan.

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Allah mereka bertawakal” [QS. Al-'Anfal (8) : 2]
THIS ADS by GOOGLE

0 Response to "MasyaALLAH.. TERHARU Dan KAGUM Pada Ketegaran SURATMI, Istri Alm SIYONO [Harap SHARE Ini]"

Post a Comment