Rajin Ibadah Duha, Sambut Maut Dengan Zikir

THIS ADS by GOOGLE
Meski disibukkan dengan pekerjaan yang banyak, lelaki yang bernama Salim itu tetap istiqomah shalat Duha. Bahkan, saat ia sudah senja usia, kebiasaan itu tetap ia jaga. Subhanallah, sebelum meninggal, kedua bibirnya pun terus berzikir.



Ahmad Salim (74) seakan sudah punya firasat saat dirinya sedang terbaring sakit. Hanya beberapa saat sebelum ia meninggal dunia, tiba - tiba ia memanggil anak dan istrinya. Ia bercerita bahwa kondisi dirinya sudah tidak nyaman. Dalam kondisi tersebut, ayah empat anak asal Romben, Sumenep ini pun menyempatkan diri berzikir hingga ajal menjemputnya, Juni 2008 yang lalu.

Semua keluarganya pun panik. Sebab, sebelumnya, kondisi kesehatan Salim memang memburuk, maklum usianya sudah tua. Mereka pun akhirnya menalqin ( membimbing kalimat tauhid menjelang wafat )-nya dengan melantunkan kalimat - kalimat tayyibah.  

Kisah itu dibenarkan Salamah, salah seorang anak salim. "Bapak memang sakit," katanya.

Di rumah itu, lanjut Salamah, ayahnya menghabiskan waktunya di musala. Setiap kali masuk waktu shalat, ayahnya langsung bangun untuk menjalankan kewajibannya.

Lebih lanjut, Salamah menuturkan bahwa keberadaan ayah tercintanya itu benar - benar menjadi teladan yang baik bagi dirinya sekeluarga. Betapa tidak, selain memberikan perhatian penuh terhadap keluarga, Salim juga rajin beribadah. Meski kondisi kesehatannya terus menurun, ia tetap mampu shalat berjamaah, bahkan puasa Ramadan.

Selain itu, lanjutnya, Salim juga terbiasa melakukan ibadah - ibadah sunah, khususnya ibadah shalat duha. Ia pun tidak turun dari musala sebelum menyelesaikan shalat sunat tersebut.

"Orangnya istiqomah shalat Duha, bahkan ia tidak pernah keluar rumah sebelum melaksanakan shalat Duha itu," imbuhnya

Kebiasaan Salim tersebut juga diturunkan pada anak - anaknya. Ia menyarankan agar anak - anaknya juga membiasakan diri melakukan shalat tersebut sekalipun hukumnya adalah sunah. Ia juga seringkali menjelaskan bahwa shalat Duha sangat perlu untuk dilaksanakan karena hal itu dapat memperlancar rezeki. "Kami seringkali diingatkan untuk melaksanakan shalat Duha itu," imbuhnya.

SHALAT TEPAT WAKTU
Salamah kembali menceritakan, kebiasaan Salim tersebut sudah ia lakukan sejak masih muda. Sebagai seorang petani biasanya ia tidak lantas berangkat ke sawah di pagi hari hingga dirinya tidak bisa melaksanakan shalat Duha terlebih dahulu Salim tetap melakukan Shalat Duha. Semangat dirinya untuk mengutamakan Shalat Duha itu seakan mengalahkan segala aktivitasnya termasuk aktivitas dirinya sehari - hari sebagai seorang petani.

Lanjutnya, ketekunan dirinya menjalankan pekerjaan sebagai petani membuatnya selalu mendapatkan hasil yang memuaskan dan berkah. Namun, saat usianya sudah senja, aktivitas bertani yang sudah puluhan tahun di tekuninya itu akhirnya dilanjutkan oleh anak - anaknya karena kondisi kesehatannya yang mulai menurun.

"Beliau sudah cukup lama tidak bekerja, lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah," tandasnya.

Di rumah yang ia tempati, sehari - hari aktivitas Salim hanya menunggu waktu shalat tiba. Setiap kali masuk waktu shalat, ia pun langsung mengambil Air Wudhu untuk beribadah. Bahkan tidak jarang dirinya menanyakan kepada anak dan juga tetangga dekatnya mengenai waktu shalat sudah tiba atau tidak.

"Kadang pukul 11 beliau sudah menanyakan waktu shalat Duhur," Imbuhnya.

Waktu yang terus berlalu ternyata tidak selamanya bisa bersahabat dengan Salim. Seiring dengan usianya yang semakin senja, kondisi kesehatannya pun juga terus menurun. Bahkan belakangan, ia sering sakit - sakitan hingga membuatnya harus menjalani perawatan di rumah sakit. Meski demikian, Salim tidak pernah mengeluh sedikitpun menghadapi usia Itu.

"Beliau tetap menjalankan aktivitas ibadahnya sekalipun dalam kondisi sakit." imbuhnya.

Suatu ketika, tepatnya beberapa saat setelah ia melaksanakan shalat Isya, tiba - tiba ia memanggil - manggil anak dan istrinya dengan mengabarkan bahwa kondisi dirinya sudah tidak nyaman. Sambil menahan rasa sakit, ia melantunkan kalimat zikir. Keluarganya pun dibuatnya semakin khawatir saat kondisi tubuh Salim tampak semakin lemas. Ia bahkan tak kuasa untuk bangkit sekalipun hanya sekedar duduk di atas pembaringannya.

Meski demikian, kalimat zikir yang ia lantunkan terus menggetarkan kedua bibirnya. Melihat kondisi demikian, beberapa orang dari keluarganya pun langsung membantu dirinya menalqin dengan kalimat - kalimat tayyibah karena khawatir kondisi Salim tersebut adalah sebuah isyarat bahwa pria itu sedang menghadapi sakaratulmaut.

"Beliau terus berzikir, hingga kalimat zikir yang ia lantunkan itu semakin tidak terdengar jelas. Ternyata beliau sudah meninggal dunia," terangnya.
THIS ADS by GOOGLE

0 Response to "Rajin Ibadah Duha, Sambut Maut Dengan Zikir"

Post a Comment